YOGYAKARTA, Republika–Penetapan batik sebagai warisan budaya dunia karya bangsa Indonesia oleh UNESCO mempengaruhi penjualan batik tulis dan cap di sentra kerajinan batik tulis di Yogyakarta. Perajin batik tulis dan cap khas Pandak “Dirjosugito” di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Alex Syamsuri, Selasa, mengatakan setelah penetapan itu banyak wisatawan yang berkunjung ke sentra kerajinan batik. “Wisatawan yang datang ke sentra kerajinan batik tidak saja berasal dari Provinsi DIY, tetapi juga dari luar daerah,” katanya.
“Jika batik laris, perajin batik akan lebih giat dan bersemangat memproduksinya, sehingga kehidupan perajin batik akan menjadi lebih baik,” katanya. Menurut dia kain maupun baju batik saat ini sudah menjadi barang cenderamata bagi wisatawan sehingga galeri maupun rumah produksi kerajinan batik tulis dan cap di Pandak Bantul banyak dikunjungi pembeli terutama saat liburan.
Ia mengatakan selama liburan wisatawan banyak yang datang, mereka bahkan memborong kain batik tulis dan cap mulai dari harga Rp50.000 perpotong hingga lima sampai enam juta rupiah perpotong. “Meski batik khususnya batik tulis yang berbahan sutera harganya jutaan rupiah, tetap ada wisatawan yang membeli dalam jumlah cukup banyak,” katanya. “Wisatawan tidak hanya berkunjung dan melihat proses produksi batik, tetapi juga membeli kain maupun baju batik tulis produk perajin,” katanya.
Ia mengharapkan pengakuan UNESCO terhadap produk batik Indonesia itu akan menjadi daya tarik wisatawan mengunjungi sentra perajin batik di Indonesia khususnya di Giriloyo Imogiri Kabupaten Bantul. “Semakin banyak wisatawan berkunjung, perajin dapat menikmati hasilnya karena produknya terjual lebih banyak,” katanya.
Di dusun tersebut tercatat sebelas kelompok pembatik yang dibentuk atas prakarsa “Jogja Heritage Society” (JHS) bekerja sama dengan “Australian Indonesia Partnership”. Ia mengatakan kekuatan batik tulis Giriloyo yang diproduksi para perajin terletak pada nilai-nilai yang dapat menjadi acuan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. “Nilai-nilai itu antara lain kesakralan, keindahan (seni) ketekunan, ketelitian dan kesabaran,” katanya. ant/kpo
——————————————————————————–
Pusatgrosir WordPress turut bangga dan berbahagia atas respon masyarakat Indonesia yang kembali mengenakan batik sebagai pakaian sehari-hari. Semoga ini bisa mengurangi tingkat konsumsi pakaian import atau pakaian merk import buatan Indonesia, karena keduanya akan membuat uang Indonesia makin banyak yang lari ke luar negeri
Bila produksi dalam negeri dengan merk sendiri yang berjaya di negeri ini, maka perputaran uang tidak akan kemana-mana, tetapi berputar dari konsumen hingga ke perajin UKM batik, yang mempekerjakan banyak tenaga kerja, memeratakan pendapatan dan lebih bisa meningkatkan kesejahteraan
Bila mayoritas dari 230 juta penduduk Indonesia sudah mengkonsumsi produk dalam negeri, perekonomian bangsa ini jauh lebih stabil, jauh lebih stabil daripada sekedar berharap hot money yang parkir sementara di bursa saham Indonesia, lalu menghilang lagi membawa banyak aset asal Indonesia, Bagaimanapun juga, pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh majunya usaha kecil menengah akan lebih tahan krisis, semoga itulah yang menjadi arah kebijakan pemerintah saat ini, semoga
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Ditandai: batik, batik cap, batik jogja, batik jogjakarta, batik keraton, batik pekalongan, batik printing, batik solo, batik tulis, batik yogya, batik yogyakarta, berita ekonomi, filosofi batik, jual batik, kain batik tulis, kebijakan ekonomi, kebijakan pemerintah, kerajinan batik, kesejahteraan rakyat, nilai batik, pasar batik, penjualan batik, perajin batik, permintaan batik, pertumbuhan ekonomi, produk dalam negeri, sentra batik, usaha kecil menengah, warta ekonomi | 1 Komentar »